• Vestibulum quis diam velit, vitae euismod ipsum

    Etiam tincidunt lobortis massa et tincidunt. Vivamus commodo feugiat turpis, in pulvinar felis elementum vel. Vivamus mollis tempus odio, ac imperdiet enim adipiscing non. Nunc iaculis sapien at felis posuere at posuere massa pellentesque. Suspendisse a viverra tellus. Nam ut arcu et leo rutrum porttitor. Integer ut nulla eu magna adipiscing ornare. Vestibulum quis diam velit, vitae euismod ipsum? Quisque ...

  • Aliquam vel dolor vitae dui tempor sollicitudin

    Proin ac leo eget nibh interdum egestas? Aliquam vel dolor vitae dui tempor sollicitudin! Integer sollicitudin, justo non posuere condimentum, mauris libero imperdiet urna, a porttitor metus lorem ac arcu. Curabitur sem nulla, rutrum ut elementum at, malesuada quis nisl. Suspendisse potenti. In rhoncus ipsum convallis mauris adipiscing aliquam. Etiam quis dolor sed orci vestibulum venenatis auctor non ligula. Nulla ...

  • Nam ullamcorper iaculis erat eget suscipit.

    Etiam ultrices felis sed ante tincidunt pharetra. Morbi sit amet orci at lorem tincidunt viverra. Donec varius posuere leo et iaculis. Pellentesque ultricies, ante at dignissim rutrum, nisi enim tempor leo, id iaculis sapien risus quis neque. Ut sed mauris sit amet eros tincidunt adipiscing eu vitae lectus. Class aptent taciti sociosqu ad litora torquent per conubia nostra, per inceptos ...

Translate


Terkait dengan pengumuman merek susu formula berbakteri oleh Kementerian Kesehatan RI, isu ini kembali mengundang keingintahuan publik. Kabar tercemarnya sejumlah susu formula dengan bakteri E. Sakazakii tentunya meresahkan banyak orangtua.
Untuk menjawab keingintahuan Anda, kenali bakteri E. Sakazakii dan apa bahayanya terhadap kesehatan bayi dan balita berikut ini
Dikutip dari situs Fakultas Pertanian IPB, Enterobacter sakazakii (dibaca: enterobakter sakazaki-ai) merupakan salah satu patogen gram negatif yang sangat mematikan pada bayi baru lahir, usia 0-6 bulan. Sementara bakteri Sakazakii merupakan ancaman bagi bayi berusia 6-12 bulan.
Angka kematian akibat infeksi E. Sakazakii pada bayi baru lahir sangat tinggi sekitar 40-80 persen terutama pada bayi prematur dan bayi dengan imunitas lebih rendah daripada bayi pada umumnya.

Bakteri ini berada di saluran pencernaan dan ditemukan dalam berbagai produk seperti susu formula, keju, daging, biji-bijian hingga bumbu-bumbuan. Bakteri E. sakazakii berkembang optimal pada kisaran suhu 30-40 derajat Celcius. Kontaminasi E. Sakazakii pada susu formula diperkirakan terjadi pada saat proses produksi.
Bila satu sel bakteri mengkontaminasi, dalam lima hari produk susu tersebut telah mengandung endotoxin yang sangat berbahaya bagi kesehatan bayi. Hal ini, menurut situs tersebut, dibuktikan dari penelitian di seluruh dunia, bukan hanya di IPB.

Hingga kini, berbagai studi terus mencari penyebab kontaminasi susu berbakteri. Diduga, E. Sakazakii mengontaminasi produk susu formula lewat udara. Sehingga, diperlukan mekanisme Hazard Analysis Critical Control Point atau analisis titik penanganan kritis pada bahaya di tingkat produksi susu formula.

Pada penggunaan di rumah, susu bayi pada umumnya disiapkan dengan proses yang minim pemanasan. Biasanya, susu formula hanya dicampur air hangat kuku dengan suhu kurang dari 70°C, yang tidak cukup untuk mematikan bakteri ini.

Racun endotoxin bakteri akan menyebabkan diare, enteritis (radang usus), sepsis (keracunan yg disebabkan oleh hasil proses pembusukan), dan meningitis (peradangan pada selaput otak dan sumsum tulang belakang).

Disebutkan, infeksi bakteri akan menyebabkan gejala demam dan diare, yang bukan hanya disebabkan bukan hanya E. sakazakii tetapi juga bisa oleh mikroorganisme lainnya. Bila bayi dan balita mengalami gejala tersebut, sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter. (kd)
• VIVAnews

Radang (bahasa Inggris: inflammation) adalah respon dari suatu organisme terhadap patogen dan alterasi mekanis dalam jaringan, berupa rangkaian reaksi yang terjadi pada tempat jaringan yang mengalami cedera, seperti karena terbakar, atau terinfeksi. Radang atau inflamasi adalah satu dari respon utama sistem kekebalan terhadap infeksi dan iritasi. Inflamasi distimulasi oleh faktor kimia (histamin, bradikinin, serotonin, leukotrien, dan prostaglandin) yang dilepaskan oleh sel yang berperan sebagai mediator radang di dalam sistem kekebalan untuk melindungi jaringan sekitar dari penyebaran infeksi.
Radang mempunyai tiga peran penting dalam perlawanan terhadap infeksi:[1]
  • memungkinkan penambahan molekul dan sel efektor ke lokasi infeksi untuk meningkatkan performa makrofaga
  • menyediakan rintangan untuk mencegah penyebaran infeksi
  • mencetuskan proses perbaikan untuk jaringan yang rusak.
Respon peradangan dapat dikenali dari rasa sakit, kulit lebam, demam dll, yang disebabkan karena terjadi perubahan pada pembuluh darah di area infeksi:
  • pembesaran diameter pembuluh darah, disertai peningkatan aliran darah di daerah infeksi. Hal ini dapat menyebabkan kulit tampak lebam kemerahan dan penurunan tekanan darah terutama pada pembuluh kecil.
  • aktivasi molekul adhesi untuk merekatkan endotelia dengan pembuluh darah.
  • kombinasi dari turunnya tekanan darah dan aktivasi molekul adhesi, akan memungkinkan sel darah putih bermigrasi ke endotelium dan masuk ke dalam jaringan. Proses ini dikenal sebagai ekstravasasi.
Bagian tubuh yang mengalami peradangan memiliki tanda-tanda sebagai berikut:
  • tumor atau membengkak
  • calor atau menghangat
  • dolor atau nyeri
  • rubor atau memerah
  • functio laesa atau daya pergerakan menurun
dan kemungkinan disfungsi organ atau jaringan.

Pseudomonas sp.

 

Scientific classification:

Kingdom: Bacteria

Phylum: Proteobacteria

Class: Gamma Proteobacteria

Order: Pseudomonadales

Family: Pseudomonadaceae

Genus: Pseudomonas

              Hydrocarbonoclastic bacterium Pseudomonas sp is capable of degrading various types of hydrocarbons. The successful use of Pseudomonas bacteria in environmental bioremediation of hydrocarbon pollution requires an understanding of the mechanisms of interaction between the bacterium Pseudomonas sp with hydrocarbon compounds.

             Pseudomonas sp is a rod-shaped bacterium, is gram negative, have a flagellum, no capsule. Form a blue pigment that seeped into the seed consists of substances: flouresens green color water soluble and insoluble pyocianin greenish blue color in the chloroform. The bacteria are only describing glucose and grow on all types of media.

             In a small number of these bacteria live as normal flora of human and animal intestinal tractus, also found on healthy human skin. Infection occurs in:
1. When bekteri enters the body of its resistance decreases, for example: chronic diseases.

2. Pathogen Pseudomonas aeruginosa are usually together when other germs, mixed infections with other bacteria (coccus pyogen) or with one of Enterobacteriaceae bacteria, such as: burns.

Germs are spread by dust and air. At the hospital Pseudomonas become contaminants such as: the surgical instrument will cause infection and it is very dangerous because the patient was weak.


The medium used for growth of bacteria Pseudomonas sp

1. Selenit Enrichment Broth

        This media is used as a medium for fertilizer by Pseudomonas sp.

Selenit inhibit the growth of coliform and Enterococcus bacteria during the first 6-12 hours of incubation, while Salmonella, Proteus, and Pseudomonas are not hampered its growth.
Composition:

      
Peptone 5 grams

      
4 grams of lactose

      Na selenit 4 grams

      Dikalium hygrogen phosphate 3.5 gram

      
Potassium dihydrogen phosphate 6.5 grams

How to manufacture:

        Mix 23 g / liter (if necessary heating temperature should not exceed 60 ° C), if the media will be stored for long periods sterile filter and placed in a suitable container.
Never in an autoclave, if there is a red sediment on selenit the media can not be used further. pH 7.0 ± 0.1.


2. Pseudomonas Selective To Base (Cetrimide order)

        
This media is used as a medium for the isolation and differential for Pseudomonas aeruginosa of various materials.

        Most of the compounds in this medium inhibits the growth of accompanying microbial flora so that the original concentration of inhibitor (0.1%) is reduced to minimize interference with the growth of Pseudomonas. Pigment production in Pseudomonas aeruginosa no inhibition when grown on this medium.
Composition:

       
Peptone from gelatin 20 grams

       
Magnesium chloride 1.4 grams

       
Potassium sulfate 10 grams

       
Cetrimide 0.3 grams

       
Agar-To 13.6 grams

       
Glycerol 10 ml
How to manufacture:

       
Mix 45.5 g / liter add 10 ml glycerol / liter, sterilized in an autoclave. Pour into sterile Petri dish.

       
For cetrimide is a kind of gelatin used for the selective isolation of gram-negative bekteri, Pseudomonas aeruginosa. As the name suggests this medium containing cetrimide, which is a selective agent against microbial flora alternate. Cetrimide also increase the production of pigments such as pyocyanin and Pseudomonas fluorescens, which showed blue-green and yellow-green characteristics respectively. Cetrimide agar is widely used in testing cosmetics, pharmaceutical and clinical specimens to test for the presence of Pseudomonas aeruginosa.



3. For Pseudomonas and Pseudomonas F Base For Base P

       
This media is used for the isolation and differentiation of Pseudomonas based on the formation of pyocyanin and pyorubin or fluorescein.

       
Pseudomonas To stimulate the formation of P Base pyocianin and reduce fluorescein, whereas Pseudomonas F Base To stimulate the production of fluorescein and reduce pyocianin. Simultaneously using both culture media allows rapid identification when prminilary from Pseudomonas species, because some strains can only synthesize pyocyanin, some only able to synthesize fluorescein and there that produce both pigments.
Composition:
a. Pseudomonas To F Base

       
Peptone from casein 10 grams

       Peptone from meat 10 grams

       
Magnesium sulfate 1.5 grams

       
Di-potassium hydrogen sulfate 1.5 grams

       Agar-agar 12 grams

      
Glycerol 10 ml
b. Pseudomonas To P Base

      
Peptone from gelatin 20 grams

      
Magnesium chloride 1.4 grams

      
10 grams of potassium phosphate

      Agar-agar 12.6 grams

      
Glycerol 10 ml
How to manufacture:

      
Mix 10 ml of glycerol / liter to 35 grams of Pseudomonas To F Base / liter or 44 grams of Pseudomonas For Base P / liter. Sterilize in an autoclave, then poured in sterile petri dish.
Procedure and evaluation:

       
Surface inoculation of culture media suspected to contain Pseudomonas so that individual colonies grown.

Incubation: 1 week at 37 ° C
Check the growth of bacteria after 24,48,72 hours and then after 6 days.

Only Pseudomonas aeruginosa can grow in order for P Base with Pseudomonas colonies surrounded by blue zones because of the formation pyocianin green to red to brown or dark zones due to the production pyorubin. Colored pigments can be extracted with chloroform. Pseudomonas aeruginosa Pseudomonas appears in order for F Base as colonies surrounded by a zone of greenish-yellow to yellow resulting from the production of fluorescein. If pycyanin also synthesized, bright green color of the resulting fluorescence in ultraviolet light.





REFERENCES
E. Merck, Darmstadt. 1984. Handbook of Culture Media Merck.

http://en.wikipedia.org/wiki/Cetrimide_agar downloaded on March 16, 2011

http://id.wikipedia.org/wiki/Pseudomonas downloaded on March 16, 2011

BAHAYA RADIOAKTIF








Pembinaan dan pengembangan kemampuan sumber daya manusia adalah syarat mutlak dalam rangka mendukung upaya pemanfaatan tenaga nuklir dan pengawasannya sehingga pemanfaatan tenaga nuklir benar-benar meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan tingkat keselamatan yang tinggi. Pembinaan dan pengembangan ini dilakukan juga untuk meningkatkan disiplin dalam mengoperasikan instalasi nuklir dan menumbuhkembangkan budaya keselamatan. Zat radio aktif adalah setiap zat yang memancarkan radiasi pengion dengan aktivitas jenis lebih besar daripada 70 kBq/kg atau 2 nCi/g (tujuh puluh kilobecquerel per kilogram atau dua nanocurie per gram). Angka 70 kBq/kg (2 nCi/g) tersebut merupakan patokan dasar untuk suatu zat dapat disebut zat radioaktif pada umum-nya yang ditetapkan berdasarkan ketentuan dari Badan Tenaga Atom Internasional (International Atomic Energy Agency). Namun, masih terdapat beberapa zat yang walaupun mempunyai aktivitas jenis lebih rendah daripada batas itu dapat dianggap sebagai zat radioaktif karena tidak mungkin ditentukan batas yang sama bagi semua zat mengingat sifat masing-masing zat tersebut berbeda.
Efek serta Akibat yang ditimbulkan oleh radiasi zat radioaktif pada umat manusia seperti berikut di bawah ini : Pusing-pusing, Nafsu makan berkurang atau hilang, Terjadi diare, Badan panas atau demam, Berat badan turun, Kanker darah atau leukimia, Meningkatnya denyut jantung atau nadi.

Salah satu tips menyembuhkan atau mengobati mata minus dengan obat tradisional Alami atau dengan terapi adalah dengan menggunakan bahan daun sirih.
Satu gangguan kesehatan pada mata yang harus diwaspadai sejak dini adalah miopia. Gangguan itu pada umumnya terjadi pada usia anak-anak sampai remaja. Untuk mengatasi atau menyembuhkannya, selain dengan cara medis, Anda bisa menggunakan daun sirih.




Mata Minus

Miopia adalah istilah kedokteran untuk rabun jauh. Suatu keadaan di mana mata mampu melihat objek yang dekat, tetapi kabur jika melihat objek yang jauh. Secara termonologis, “myopia” berasal dari bahasa Yunani yang berarti menyipitkan mata. Penderita kelainan ini selalu menyipitkan mata untuk melihat lebih jelas objek yang jauh letaknya. Itulah salah satu karakteristik utama penderita miopia.
Menurut ahli pengobatan mata dengan terapi daun sirih ini, ciri khas perkembangan miopia adalah kelainan yang terus meningkat hingga usia remaja, kemudian menurun pada usia dewasa muda. Walaupun agak jarang, miopia dapat pula disebabkan oleh perubahan kelengkungan kornea atau oleh kelainan bentuk lensa mata.
Lazimnya, miopia terjadi karena memanjangnya sumbu bola mata, sehingga mata berbentuk bulat telur. Pemanjangan sumbu ini menyebabkan media refraktif sulit memfokuskan berkas cahaya. Sejalan dengan memanjangnya sumbu bola mata, derajat miopia bertambah. Pada usia anak-anak sampai remaja, proses pemanjangan bola mata dapat merupakan bagian dari pertumbuhan tubuh. Pertambahan derajat miopia membutuhkan kacamata yang kian berat derajat kekuatannya. Karena itu, penderita, penderita pada usia 20-40 tahun dianjurkan melakukan pemeriksaan setiap 6 bulan.
Gejala-gejala Mata Minus
Pada rabun jauh (miopia, mata minus), sumbu mata terlalu cembung, sehingga bayangan benda jatuh di depan retina. Akibatnya, benda yang jauh tidak terlihat jelas. Tanpa kacamata, penderita rabun jauh akan mengalami sakit kepala dan nyeri pada mata.
Gejalanya adalah kepala nyeri berdenyut terutama bagian depan, bola mata perih dan berat, terasa seperti mau keluar dan air mata meleleh berlebihan. Keadaan ini biasanya membaik bila mata diistirahatkan atau dengan minum obat antinyeri. Tapi sering kali kambuh beberapa waktu kemudian.
Apakah miopia dapat menyebabkan sakit kepala? Miopia memang bisa menyebabkan sakit kepala. Untuk seorang penderita miopia, pada saat melihat miopia, pada saat melihat jauh, bayangan jatuh di depan retina sehingga mengurangi kecembungan lensa. Perubahan kecembungan ini dinamakan kemampuan akomodasi mata. Mata yang berakomodasi terus-menerus dalam waktu yang lama akan menimbulkan kelelahan. Kelelahan mata inilah yang mencetuskan nyeri kepala dan nyeri pada mata.
Terapi Daun Sirih Untuk Mengobati Mata Minus
Mengapa daun sirih? Tanaman ini memiliki banyak khasiat untuk mencegah gangguan kesehatan dan mengobati penyakit. Dalam farmakologi China, sirih dikenal sebagai tanaman yang memiliki sifat hangat dan pedas. Mereka menggunakan daun sirih untuk meluruhkan kentut, menghentikan batuk, mengurangi peradangan, dan menghilangkan gatal. Di India daun sirih dikenal sebagai zat aromatik yang menghangatkan, bersifat antiseptik, dan bahkan meningkatkan gairah seks.
Daun sirih mengandung minyak atsiri, yaitu kadinen, kavikol, sineol, eugenol, dan karvakol. Minyak atsiri dari daun sirih ini mengandung seskuiterpen, pati, diatase, gula, dan zat samak dan kavikol yang memiliki daya mematikan kuman, antioksidasi, fungisida, dan antijamur. Daun sirih mengandung zat antijamur. Daun sirih mengandung zat antiseptik pada seluruh bagiannya.

Nah, sekarang dengan Anda membaca Cara Mengobati Mata Minus Tradisional dengan menggunakan daun sirih ini, maka bertambah juga ilmu kesehatan Anda.

http://www.kesmas.com/cara-mengobati-mata-minus-tradisional-08.html


Uji Barfoed

Pada uji barfoed untuk mendeteksi karbohidrat yang tergolong monosakarida. Pereaksi barfoed terdiri dari kupri asetat dan asam asetat. Ke dalam 5 ml peraksi dalam tabung reaksi ditambahkan 1 ml larutan contoh, kemudian tabung reaksi ditempatkan dalam air mendidih selama 1 menit. Endapan berwarna merah orange menunjukkan adanya monosakarida dalam contoh.
Ion Cu2+ dari pereaksi Barfoed dalam suasana asam akan direduksi lebih cepat oleh gula reduksi monosakarida dari pada disakarida dan menghasilkan Cu2O (kupro oksida) berwarna merah bata. Hal inilah yang mndasari uji Barfoed.
Pada uji Barfoed, yang terdeteksi monosakarida membentuk endapan merah bata karena terbentuk hasil Cu2O. berukut reaksinya :
O O
Cu2+ asetat
R—C—H + ─────→ R—C—OH + Cu2O+ CH3COOH
n-glukosa E.merah
monosakarida bata
Pada praktikum ini tidak terdeteksi adanya monosakarida. Kemungkinan adanya pemanasan yang terlalu lama menyebabkan perubahan warna tidak terdeteksi. Menurut Winarno (2004) dalam pengujian monosakarida mengunakan perekaksi Barfoed, setelah dipanaskan selama 1 menit, didiamkan beberapa saat sehingga dapat dilihat perubahan yang terjadi pada larutan uji tersebut.
Uji Seliwanoff

Pada uji Seliwanof, ketosa terdeteksi pada zat uji Fruktosa dengan terbentuknya warna merah bata; yaitu karena terbentuknya resorsinol.
Berikut reaksinya :
CH2OH OH O OH OH
+HCl
H CH2OH ───→ H2C— —C—H + → kompleks
berwarna
OH H OH merah bata
5-hidroksimetil furfural resorsinol
Pada hasil uji seliwanoff ketosa terdeteksi pada zat uji fruktosa, sukrosa dan air kelapa muda.

www.dokterkimia.com/2010/.../uji-kulaitatif-untuk-identifikasi.html -

Pseudomonas sp.
 
Klasifikasi ilmiah:
Kerajaan : Bacteria
Filum : Proteobacteria
Kelas : Gamma Proteobacteria
Ordo : Pseudomonadales
Famili : Pseudomonadaceae
Genus : Pseudomonas
              Pseudomonas sp merupakan bakteri hidrokarbonoklastik yang mampu mendegradasi berbagai jenis hidrokarbon. Keberhasilan penggunaan bakteri Pseudomonas dalam upaya bioremediasi lingkungan akibat pencemaran hidrokarbon membutuhkan pemahaman tentang mekanisme interaksi antara bakteri Pseudomonas sp dengan senyawa hidrokarbon.
             Pseudomonas sp merupakan bakteri berbentuk batang, bersifat gram negatif, mempunyai flagel, tidak berkapsul. Membentuk pigmen biru yang meresap masuk dalam perbenihan terdiri dari zat : flouresens warna hijau yang larut dalam air dan pyocianin warna biru kehijauan larut dalam kloroform. Bakteri ini hanya menguraikan glukosa dan tumbuh pada semua jenis media.
             Dalam jumlah kecil bakteri ini hidup sebagai flora normal tractus intestinalis manusia dan hewan, juga ditemukan pada kulit manusia sehat. Infeksi terjadi pada :
1. Bila bekteri masuk ke dalam tubuh yang daya tahannya menurun, misalnya : penyakit menahun.
2. Pseudomonas aeruginosa biasanya pathogen bila bersama-sama kuman lain, infeksi campuran dengan kuman lain (coccus pyogen) atau dengan salah satu kuman Enterobacteriaceae, misalnya : luka bakar.
Kuman ini menular melalui debu dan udara. Di rumah sakit Pseudomonas menjadi kontaminan misalnya : pada alat bedah akan menyebabkan infeksi dan hal ini sangat berbahaya sebab pasien dalam keadaan lemah.


Media yang digunakan untuk pertumbuhan kuman Pseudomonas sp

1. Selenit Enrichment Broth
        Media ini digunakan sebagai media penyubur Pseudomonas sp.
Selenit menghambat pertumbuhan kuman coliform dan enterococcus selama 6-12 jam pertama inkubasi sedangkan Salmonella, Proteus, dan Pseudomonas tidak terhambat pertumbuhannya.
Komposisi :
      Pepton 5 gram
      Laktosa 4 gram
      Na selenit 4 gram
      Dikalium hygrogen fosfat 3,5 gram
      Kalium dihydrogen fosfat 6,5 gram
Cara pembuatan :
        Campur 23 g/liter (jika perlu pemanasan suhu tidak boleh melebihi 60° C), jika media akan disimpan untuk jangka waktu yang lama filter steril dan ditempatkan dalam wadah yang sesuai.
Jangan di autoclave, jika terdapat endapan merah pada selenit maka media tidak dapat digunakan lebih lanjut. pH 7,0 ± 0,1.

2. Pseudomonas Selective Agar Base (Cetrimide Agar)
        Media ini digunakan sebagai media isolasi dan diferensial untuk Pseudomonas aeruginosa dari berbagai macam bahan.
        Sebagian besar senyawa dalam media ini menghambat pertumbuhan mikroba flora yang menyertainya sehingga konsentrasi asli dari inhibitor (0,1%) dikurangi untuk meminimalkan gangguan pada pertumbuhan Pseudomonas. Produksi pigmen Pseudomonas aeruginosa tidak di hambat bila ditanam pada media ini.
Komposisi :
       Pepton dari gelatin 20 gram
       Magnesium klorida 1,4 gram
       Kalium sulfat 10 gram
       Cetrimide 0,3 gram
       Agar-Agar 13,6 gram
       Gliserol 10 ml
Cara pembuatan :
       Campur 45,5 g/liter tambahkan 10 ml gliserol/liter, sterilkan di autoclave. Tuang ke dalam cawan petri steril.
       Agar cetrimide merupakan jenis agar-agar yang digunakan untuk isolasi selektif bekteri gram negative, Pseudomonas aeruginosa. Seperti namanya media ini mengandung cetrimide, yang merupakan agen selektif terhadap flora mikroba elternatif. Cetrimide juga meningkatkan produksi pigmen Pseudomonas seperti pyocyanin dan fluorescens, yang menunjukkan warna biru-hijau dan kuning-hijau karakteristik masing-masing. Cetrimide agar-agar secara luas digunakan dalam pengujian kosmetik, farmasi dan spesimen klinis untuk menguji keberadaan Pseudomonas aeruginosa.


3. Pseudomonas Agar F Base dan Pseudomonas Agar P Base
       Media ini digunakan untuk isolasi dan diferensiasi Pseudomonas berdasarkan pembentukan pyocyanin dan pyorubin atau fluorescein.
       Pseudomonas Agar P Base merangsang pembentukan pyocianin dan mengurangi fluorescein, sedangkan Pseudomonas Agar F Base merangsang produksi fluorescein dan mengurangi pyocianin. Simultan menggunakan kedua media kultur memungkinkan cepat saat identifikasi prminilary dari spesies Pseudomonas, karena beberapa strain hanya dapat mensintesis pyocyanin, beberapa hanya dapat mensintesis fluorescein dan ada yang menghasilkan kedua pigmen.
Komposisi:
a. Pseudomonas Agar F Base
       Pepton dari kasein 10 gram
       Pepton dari daging 10 gram
       Magnesium sulfat 1,5 gram
       Di-kalium hydrogen sulfat 1,5 gram
       Agar –agar 12 gram
      Gliserol 10 ml
b. Pseudomonas Agar P Base
      Pepton dari gelatin 20 gram
      Magnesium klorida 1.4 gram
      Kalium fosfat 10 gram
      Agar –agar 12.6 gram
      Gliserol 10 ml
Cara pembuatan :
      Campur 10 ml gliserol/liter dengan 35 gram Pseudomonas Agar F Base/liter atau 44 gram Pseudomonas Agar P Base/liter. Sterilkan di autoclave, kemudian tuang dalam cawan petri steril.
Prosedur dan evaluasi :
       Inokulasi permukaan media kultur yang diduga mengandung Pseudomonas sehingga koloni individu berkembang.
Inkubasi: 1 minggu pada suhu 37 ° C
Periksa pertumbuhan bakteri setelah 24,48,72 jam dan kemudian setelah 6 hari.
Hanya Pseudomonas aeruginosa dapat tumbuh pada Pseudomonas Agar P Base dengan koloni yang dikelilingi oleh zona biru hingga hijau karena pembentukan pyocianin atau zona merah hingga coklat gelap karena produksi pyorubin. Pigmen yang berwarna dapat diekstraksi dengan kloroform. Pseudomonas aeruginosa muncul pada Pseudomonas Agar F Base sebagai koloni dikelilingi oleh zona kuning hingga kehijauan-kuning yang dihasilkan dari produksi fluorescein. Jika pycyanin juga disintesis, warna hijau terang yang dihasilkan berfluoresensi dalam cahaya ultraviolet.




DAFTAR PUSTAKA
E. Merck, Darmstadt. 1984. Handbook Culture Media Merck.
http://en.wikipedia.org/wiki/Cetrimide_agar diunduh pada 16 Maret 2011
http://id.wikipedia.org/wiki/Pseudomonas diunduh pada 16 Maret 2011